Perjalanan Menuju Dataran Tinggi Dieng Yang Penuh Rintangan

Selamat datang di Kawasan Dieng Plateu
Hai...hai...hai...Miss Risna kembali lagi dengan sebuh cerita yang sangat-sangat tertunda. Yuppy cerita ini adalah sebuah cerita perjalanan yang menjadi sebuah misi dari Pak Lek. Why? Jadi gini dahulu kala waktu Pak Lek pengen banget ke Dieng dan baru bisa tercapai akhirnya di tahun 2016. Walaupun di rencana pertama waktu ada Simbok kami sempat gagal ke Dieng karena mobilnya πŸš—super duper trouble hingga membuat kita memilih untuk putar balik pulang ke rumah saja. Nah sambil dengerin 🎡 Halyang Dream by Gary feat John Park 🎧, aku bakal cerita untuk perjalanan kedua menuju Dataran tinggi Dieng.

Foto kiriman MissRisna (@risnadianti) pada

Dua hari sebelum hari Minggu (22/06/16) Pak Lek WA yang intinya bahwa si munggil udah servis, minggu besok kita ke Dieng ya. Bagaimana bisa aku menolak ajakan piknik ini? Hehehe secara sekarang waktu piknikku mulai berkurang. Aku iya-kan ajakan Pak Lek dan mulai browsing tentang Dieng. Maklum sekalipun dulu pernah ke Dieng (ceritanya di link >>ini<<), tapi ini butuh informasi dan referensi dengan blog walking. Pak Lek pun bilang bahwa kita kan start dari rumah sekitar jam 04.30 WIB (duh ... betapa beratnya mata ini) dengan personil Lek Toyo Family tapi minus Simbok karena kata Simbok terlalu jauh tempatnya, makanya kursinya Simbok dihibahkan ke Nisa.hahahah...Kamipun akhirnya berangkat jam 05.30 WIB dengan rute yang mana dulu kami pernah gagal ke Dieng. Rute yang kami lewati adalah Sentolo - Kalibawang - Borobudur - Secang - Temanggung - Kota Wonosobo - Dieng. Yupps, Lek Toyo bilang bahwa hari itu kami mau napak tilas di spot-spot waktu mobil kami trouble. Kami bahkan sempat terjebak keramaian pasar dan harus putar balik karena kami salah ambil jalan. Hingga akhirnya kami merasakan bahwa kami telah menapaki negeri para dewa yaitu Dieng. Yups kita udah dimintain retribusi masuk tapi ternyata dari gapura selamat datang masih sekitar 3-4 km gitu.

Yeay sampai Dieng
Ikhwan posenya lagi nari katanya
Sesampainya di Gapura yang super hist di dataran tinggi Dieng via Wonosobo, gak lupa dong Pak Lek berhenti dan kamipun narsis di pinggir jalan. hihihi... setelah puas kamipun melanjutkan perjalanan kami. Naik-naik ke puncak gunung pokoknya dengan suasana yang syahdu karena mau hujan. Hingga akhirnya kami sampai di pertigaan terhist di kawasan Dieng. Kali ini kami memilih untuk belok kiri dan menuju ke kawasan Telaga Warna. Cukup ramai hari itu dan seperti biasa ketika kamu akan memasuki kawasan Dieng tentunya akan bayar retribusi masuk yang selain dihampiri oleh petugas loket kamu juga kan di hampiri oleh para penjual masker. Untuk harga tiket perorang Rp 10.000 untuk Domestik dan Asing (*Per 1 Juli 2016). Sebenarnya kami juga udah ditarik retribusi dibawah karena kami lewat Kota Wonosobo. Nah setelah itu kami pun menuju ke tempat parkir yang waktu itu emang di kawasan Telaga Warna ini sedang renovasi habis-habisan. Di tambah suasana liburan membuat kawsan Telaga warna ini dibanjiri oleh para wisatawan. Sehabis Pak Lek parkir mobil, aku sama nisa segera bergegas ke loket karena emang antri. Nah tiket masuk di Telaga Warna Per 1 September 2016 ini Rp 6000 untuk hari biasa dan Rp 8500 Untuk hari libur. Ini untuk wisatawan domestik ya, kalu wisatawan asing sekitar Ro 100.000 weekday dan Rp 150000 Weekend/Hari libur. Setelah dapat tiket, nunggu Pak Lek dan keluarga. Setlah masuk di Telaga warga para kurcil seperti Nisa, Insan dan Ikhwan kelaparan. Hingga akhirnya menyedu popmie. Udah bawa sendiri dari rumah. Sambil menghabiskan popmie, kami sudah berada di kawasan telaga Warna yang hari itu berwarna hijau. Kamipun seger berkeliling ke Telaga warna ini.

Insan menikmati Telaga Warna

Foto kiriman MissRisna (@risnadianti) pada



Pak Lek with krucil-nya

Masih ingat dengan kunjunganku ke Telaga Warna habis dari Gunung Prau? Check this out di link iniπŸ”™. Yups beda banget waktu terakhir kalinya aku kesini. Karena di waktu aku kesini dulu warna biru tosca dan telaganya mengering. Nah pas bareng Pak Lek ini telaga full dan berwarna hijau. Banyak banget wisatawan yang berfoto-foto. Kami sempat galau mau ke Dieng Theater atau enggak? Hingga akhirnya memilih untuk ke menuju ke Telaga Pengilon yang jaraknya gak begitu jauh dari Telaga Warna. Cukup jalan kaki ajah. Sepanjang jalan menuju telaga ini ada penjual dan ada pula pengamen. Hingga akhirnya kami berhenti di lapak penjual jajan yang menjajankan aneka makanan seperti mendoan, carika dan aneka makanan dan minuman lainnya. Kamipun menikmati mendoan , minuman dan aneka makanan sambil menikmati pemandangan sekitar. Setelah selesai, kami lanjut ke perjalanan menuju danau Pengilon.

Jajan dulu lah ^^v

Foto kiriman MissRisna (@risnadianti) pada


View Danau Pengilon

Danau ini tidak memiliki jalur untu pejalan kaki yang nyaman, jadi lebih ke jalur buatan yang tercipta karena sering dilalui para wisatawan. Karena kurang bisa menikmati atau lebih tepatnya tak ada space untuk menikmati danau ini, kami segera balik ke Telaga Warna dan waktu itu memasuki waktu Dzuhur, kamipun bergantian untuk sholat karena mushola di Telaga Warna waktu itu ramai. Setelah itu kamipun segera kembali ke parkiran untuk menuju destinasi selanjutnya. Kami memilih untuk ke Candi Arjuna yang letaknya tak begitu jauh dari Telaga Warna. Jadi Kalau dari pertigaan hist dari kota Wonosobo ambil kekanan dan habis itu ambil kekiri di pertigaan Indom*rt. Setelah parkir dan membayar retribusi masuk, kami segera cari tempat yang luas untuk makan siang. 

Ini namanya baru piknik ^^v

Yups, kali ini menang piknik beneran karen bawa tiker, bekal dari rumah masakan Bulik-ku. Akhirnya ada tempat yang di bawah pohon dengan rumputan nan hijau yang kami pilih dengan berdoa jangan hujan. Karena saung-saung yang ada sudah penuh dipakai para wisatawan. Kami segera melebarkan tikar dan mengeluarkan alat tempur untuk makan. Hari itu Bulik bawa nasi dan lauk nya ada yang beli di Pasar Temanggung yang dulu pernah kita berhenti karena mobil trouble. Mbeh ini menag bener-bener piknik beneran. Selesai makan Bulik, Insan, Ikhwan dan Nisa berkeliling candi Arjuna dan aku memilih untuk istirahat sama Pak Lek. Pak Lek sih butuh memulihkan tenaga. Sekitar 45 menit kami di Candi Arjuna hari itu. Insan dan Ikhwan waktu itu sempat foto naik kuda.

to tweet >.<
Yeay makasih Lek ^^v
Piknik kami hari itu, berakhir dengan Candi Arjuna karena ketika mau ke Kawah Sikidang, kabut mulai turun. Takut makin tebal dan membuat kita harus menginap. Akhirnya Pak Lek ambil keputusan untuk pulang saja. Besok bisa kesini lagi lanjut destinasi yang belum dikunjungi daripada harus nginap soalnya Simbok di rumah sendiri. Perjalanan pulang yang di iringi suasa syahdu dengan kabut dan rintik hujan membuat perjalanan piknik kami berasa syahdu banget. Apalagi hujan ini mengiringi perjalanan pulang hingga perbatasan Magelang - Sleman.

Sehat terus lek, jangan kapok ngajakin main ^^v
Hihihi... Maksih buanyak Pak Lek yang sering ngajak main ponakanmu ini waau sudah beranjak dewasa. Jangan kapok dan bosen ngajak dolan ya Lek. Sehat selalu dan lancar selalu rejeki dan semuany (ini ikhlas dari dalam hati dan diiringi modus biar tetep diajak dolan ^^v)

Miss Risna

Perempuan yang terlahir dan (masih) tinggal di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Punya tekad buat explore plus santai manja di ujungnya baratnya Indonesia, alamnya Indonesia Timur, lihat oppa-oppa langsung di negaranya, menginjakan kaki di daratan negara Penjajah Indonesia dan bakalan kolaborasi sama idola Aamiin ^^v.

4 komentar:

  1. Mbak paragrafmu kepanjangan, coba dipisahin biar gampang bacanya :D

    BalasHapus
  2. Wooh, sekarang air Telaga Warnanya melimpah ruah nggak kering kerontang seperti foto di artikelmu tahun 2014 silam. Tapi malah kabutan. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahha iya mas, pas aku kering krontang, ini full tank

      Hapus